You are here
Home > Books > Review Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Review Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Hallo guys, sudah lama ya ga ketemu… hahaha

Eh sorry maksudnya sudah lama banget gw ga nulis nulis lagi, setelah banyak cobaan cobaan yang menimpa gw. Dari web gw di hack sama orang luar, gilaa rajin banget kan mereka, artikel- artikel gw seketika jadi tulisannya bahasa inggris. Deadline kantor yang bejibun, skripsweet yang tak kunjung kelar. Dan yang parahnya adalah gw harus bejuang melawan hacker. What? Seorang akuntan melaawan hacker, coba bayangin aja, ini tuh ga apple to apple,  ini nama nya apple to melon… wkwkwk. Dari kejadian ini pun, gw jadi teringat tentang buku favorite gw buku nya Mark Manson. Nah gw akan mencoba mengupas buku ini lebih lanjut. Let’s go !

Sumber: cherierenee.com

Buku ini berjudul ” The Subtle Art of Not Giving A F*uck ” kalo dalam bahasa Indonesia nya itu adalah Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Buku ini masuk ke dalam New York Times Best Seller. Dilihat dari judul nya buku ini memang menarik sekali untuk di baca. Dari judulnya saja kita sudah pasti tahu bahwa tema yang dibahas memang blak-blakan, dan secara tegas mengajak pembaca untuk bersikap ‘bodo amat’ tentang hal-hal yang sifatnya menjadi penghambat untuk mencapai berbagai tujuan dalam hidup. Yupss tepat sekali memang buku ini adalah buku yang menurut gw paling jujur yang pernah gw baca.

Benar-benar mengubah mindset. Mendobrak mitos.

Terdapat 9 Chapter,

Chapter 1: Don’t Try

Chapter 2: Happiness is a Problem

Chapter 3: You Are Not Special

Chapter 4: The Value of Suffering

Chapter 5: You Are Always Choosing

Chapter 6: You’re Wrong About Everything (But So Am I)

Chapter 7: Failure Is the Way Forward

Chapter 8: The Importance of Saying No

Chapter 9: … And Then You Die Something Beyond Out Selves The Sunny Side of Death

Di lihat dari daftar isinya memang ini agak terlihat aneh untuk buku-buku jenis self improvement ya guys.

Don’t Try. Jika buku buku self improvement lain pastinya kita diwajibkan untuk mencoba, tetapi buku ini kita di larang untuk mencoba. Don’t judge a book by it’s chapter, ya.Inti dari bab ini adalah: Lo enggak akan pernah bahagia, saat lo terus mencari arti kebahagiaan. Lo enggak akan pernah sukses, saat lo terus mencari arti kesuksesan. Dan ya: Jangan berusaha.

Disini si Mark kasih contoh bahwa terkadang sesuatu yang dilakukan cuma iseng, malah jadi sukses. Dan sesuatu yang kita fokus lakukan, malah jadi berantakan.

Dia ngasih tau: Jika mengejar hal yang positif adalah hal yang negatif, mengejar hal yang negatif akan menghasilkan hal yang positif. Atau seperti pribahas: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Ya, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Di bab ini kita mulai diajari tentang melakukan ‘bodo amat’. Dan cara nya akan gw sebutkan beserta contoh singkat:

  1. Masa bodo bukan berarti enggak peduli/acuh tak acuh. Masa bodo berarti nyaman ketika menjadi berbeda (Contoh: Nyokap lo abis ditipu sama sodara lo sendiri, dan keilangan duit yang sangat banyak. Kalau lo merasa bodo amat, lo paling cuma bilang ke nyokap lo yang sabar ya maaah~. Gitu doang. Beda kalau lo membalas nya dengan liatin aja mah, entar aku laporin dia ke polisi. Lo bodo amat meskipun dia sodara lo. Tapi disini lo masa bodo enggak mikirin meskipun dia sodara lo, kalau bikin hidup lo merugi parah, ya lo enggak bisa tinggal diam dong.
  2. Untuk bisa “Bodo amat” pada kesulitan, lo harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Contoh: skripsi ga kelar – kelar banyak revisian, dosen susah di temuin. Bodo amat akan kesulitan yang ada yang penting lo tetep berusaha menghadapi setiap kesulitan, jadi lo harus berfokus pada tujuan bukan pada kesulitannya. Harus siap akan setiap tantangan yang datang. Masalah itu tidak bisa dihindari, pasti akan datang. Jadi lo harus fokus pada problem solving, bodo amat banyak masalah lo harus gigih cari solusinya.

Happiness is a Problem. Kebahagian itu masalah, menurut Mark kita harus merasakan penderitaan. Derita adalah sebuah proses penting untuk merasakannya. Coba bayangkan seorang anak kecil yang sedang berjalan, anak kecil itu akan jatuh dan melukai dirinya. Namun tidak pernah sedikit pun anak itu berpikir. ” Oh berjalan bukan bidang saya. Saya tidak mahir melakukannya.” Rasa sakit merupakan sebuah tenunan yang mengangumkan yang membentuk kain kehidupan. Dan rasa sakit ini, sebagaimana kita membencinya ternyata berguna. Untuk mencapai goals kita, kita harus rela berjuang. Kita harus rela merasakan penderitaan. No pain No gain.

Kebahagian bukan merupakan hasil dari pemberian, kebahagian adalah satu bentuk proses berjuang mengahadapi setiap kesulitan-kesulitan yang ada. Kebahagian datang ketika kita berhasil menyelesaikan suatu problem.

Rasa sakit apa yang kita inginkan dalam hidup? Apa yang membuat kita rela berjuang? Karena itu tampak seperti faktor yang sangat menentukan menjadi apa hidup kita nantinya?

Kita tidak dapat menggendalikan apa yang ada terjadi di luar, tetapi kita dapat menggendalikan reaksi kita terhadap kejadiaan tersebut.

 

Siti Karomah
Penikmat Kopi. Pencinta Buku. Penjelajah Internet. My passionate is about self improvement, technology, tax, accounting, economy, psychology, and business.

Leave a Reply

Top